
Tuberkulosis (TB) pada pekerja tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan, tetapi juga beririsan dengan kondisi dan tuntutan di lingkungan kerja. Bagi pekerja laki-laki, tekanan untuk tetap produktif serta tanggung jawab terhadap keluarga dapat menjadi bagian dari konteks yang memengaruhi keterlambatan dalam mengakses penanganan TB. Karena itu, upaya penanggulangan TB di lingkungan kerja membutuhkan kolaborasi antara sektor kesehatan, ketenagakerjaan, perusahaan, dan pekerja.
Sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut, FK-KMK UGM bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, dan Perkumpulan Sinergi Sehat Indonesia melaksanakan rangkaian Program Pengarusutamaan Maskulinitas dalam Manajemen Kasus Tuberkulosis pada Pekerja Laki-Laki di Kabupaten Bantul. Program dilaksanakan dalam dua tahap, mulai dari identifikasi persoalan hingga penyusunan rekomendasi intervensi secara partisipatif bersama para pemangku kepentingan.
Tahap 1: Menggali Hambatan Akses Layanan TB pada Pekerja Laki-Laki

PRA Tahap 1 dilaksanakan pada 16 Juli 2026 di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul dengan melibatkan 26 perwakilan perusahaan, bersama Disnakertrans Kabupaten Bantul, tim peneliti, mahasiswa MPH FK-KMK UGM, dan Sinergi Sehat Indonesia.
Tahap pertama difokuskan untuk memahami kondisi yang dihadapi pekerja laki-laki dalam pencegahan dan penanganan TB di lingkungan kerja. Peserta secara partisipatif mengidentifikasi faktor risiko, akar penyebab, dan dampak TB; menentukan faktor yang paling berpengaruh terhadap kemauan dan kemampuan pekerja dalam mengakses layanan; serta memetakan faktor yang mendorong maupun menghambat akses terhadap skrining, pemeriksaan, dan pengobatan TB.
Proses tersebut dilakukan menggunakan tiga pendekatan partisipatif, yaitu problem tree, pairwise ranking, dan force field analysis. Dengan metode tersebut, pengalaman dan perspektif perusahaan tidak hanya dikumpulkan sebagai masukan, tetapi digunakan sebagai dasar untuk menentukan persoalan yang perlu menjadi perhatian dalam penyusunan intervensi pada tahap berikutnya.
Kegiatan Tahap 1 juga menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya keterlibatan perusahaan dalam penanggulangan TB. Lingkungan kerja memiliki posisi strategis untuk mendukung deteksi dini, mengurangi hambatan akses layanan, serta menciptakan dukungan bagi pekerja yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan TB.
Tahap 2: Dari Identifikasi Masalah Menuju Co-Design Intervensi

Temuan dari Tahap 1 kemudian menjadi pijakan dalam Diskusi Tahap 2 yang dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 di Kabupaten Bantul. Tahap ini memperluas keterlibatan pemangku kepentingan dengan menghadirkan 44 peserta, termasuk perwakilan perusahaan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Disnakertrans Kabupaten Bantul, Puskesmas Sedayu I, Puskesmas Sedayu II, Puskesmas Banguntapan II, serta Sinergi Sehat Indonesia.
Berbeda dengan tahap sebelumnya yang berfokus pada identifikasi masalah, Tahap 2 diarahkan pada perumusan solusi. Kegiatan diawali dengan pemaparan penanggulangan TB dari perspektif ketenagakerjaan dan kesehatan masyarakat. Perspektif tersebut kemudian dipertemukan dalam sesi co-design intervensi, di mana peserta bersama-sama memetakan rekomendasi best practice untuk penanggulangan TB pada pekerja laki-laki di lingkungan perusahaan.
Pendekatan co-design menjadi bagian penting karena rancangan intervensi tidak disusun hanya dari perspektif kesehatan. Masukan perusahaan, sektor ketenagakerjaan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya digunakan untuk merumuskan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi dunia kerja dan hambatan yang sebelumnya telah diidentifikasi pada Tahap 1.
Capaian Program
Dari dua tahap pelaksanaan, terdapat beberapa capaian utama yang menjadi benang merah Program Maskulinitas:
- Masalah digali langsung bersama pelaku di lingkungan kerja. Tahap 1 menggunakan pendekatan partisipatif untuk memahami akar masalah, menentukan prioritas hambatan, serta memetakan faktor pendorong dan penghambat akses layanan TB bagi pekerja laki-laki.
- Penanggulangan TB ditempatkan sebagai isu lintas sektor. Program mempertemukan perspektif kesehatan masyarakat, ketenagakerjaan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan perusahaan dalam satu ruang diskusi.
- Identifikasi masalah diterjemahkan menjadi rancangan solusi. Temuan pada Tahap 1 tidak berhenti sebagai pemetaan persoalan, tetapi digunakan sebagai dasar dalam sesi co-design pada Tahap 2.
- Tersusun pemetaan rekomendasi intervensi TB bagi pekerja laki-laki. Tahap 2 menghasilkan rekomendasi best practice yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi dokumen rekomendasi dan bahan tindak lanjut bersama.
- Terbangun ruang kolaborasi antara perusahaan dan sektor kesehatan. Rangkaian kegiatan memperkuat keterlibatan perusahaan, pemerintah daerah, puskesmas, dan mitra program dalam mendukung penanggulangan TB di tempat kerja.
Dari Diskusi Menuju Tindak Lanjut
Berakhirnya Tahap 2 bukan berarti hasil diskusi berhenti di ruang pertemuan. Beberapa tindak lanjut direncanakan, meliputi penyusunan dokumen rekomendasi best practice intervensi penanggulangan TB pada pekerja laki-laki, penyebarluasan rekomendasi kepada perusahaan dan pemangku kepentingan terkait, serta penjajakan uji coba intervensi pada salah satu perusahaan peserta.
Melalui rangkaian dua tahap ini, Program Maskulinitas bergerak dari memahami persoalan menuju merancang respons bersama. Penanggulangan TB pada pekerja laki-laki membutuhkan lebih dari sekadar penyediaan layanan kesehatan; diperlukan lingkungan kerja yang mendukung pekerja untuk melakukan deteksi dini, menjalani pemeriksaan, dan memperoleh pengobatan tanpa mengabaikan realitas sosial maupun pekerjaan yang mereka hadapi.
Kolaborasi antara sektor kesehatan, ketenagakerjaan, perusahaan, dan pekerja menjadi langkah penting untuk membangun pendekatan penanggulangan TB di tempat kerja yang lebih responsif, kontekstual, dan berkelanjutan.