Sinergi Sehat Indonesia

Bahaya yang Sering Kita Abaikan: Bagaimana Polusi Udara Diam-Diam Membebani Jantung Kita?

Penulis: Avinnia Sasadhara – Master of Public Health Program, (FK-KMK) UGM

Pernahkah kita berpikir bahwa udara yang kita hirup setiap hari dapat ikut menentukan seberapa sehat jantung kita?

Ketika mendengar istilah polusi udara, kita mungkin langsung membayangkan asap kendaraan, cerobong pabrik, atau langit kota yang berkabut. Padahal, persoalannya tidak berhenti pada mata yang perih atau napas yang sesak. Namun, juga berkaitan erat dengan penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular lainnya.

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2019, dampak gabungan polusi udara luar ruangan dan polusi udara rumah tangga menyebabkan sekitar 6,7 juta kematian dini di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,2 juta kematian dini disebabkan oleh polusi udara luar ruangan. Sebagian besar kematian tersebut berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, terutama penyakit jantung iskemik [1]. WHO juga mengidentifikasi penyakit jantung iskemik sebagai salah satu penyakit yang paling kuat kaitannya dengan paparan polusi udara [2]. Dengan demikian, polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga merupakan permasalahan kesehatan masyarakat.

Ketika Udara yang Kita Hirup Membebani Jantung

Salah satu polutan yang paling banyak diteliti adalah PM2.5, yaitu partikel udara yang berukuran sangat kecil dengan diameter ≤ 2,5 mikrometer. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan karena ukurannya sangat kecil. Namun, dampaknya tidak hanya berhenti di paru-paru.

Paparan polusi udara dapat memicu peradangan dan stres oksidatif, serta mengganggu fungsi pembuluh darah. Dampak tersebut dapat memengaruhi sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung iskemik, gangguan irama jantung, dan gagal jantung [2], [3], [4]. Sederhananya, pembuluh darah seperti selang yang harus terus bekerja untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Ketika lingkungan di dalam tubuh terus mengalami gangguan akibat paparan polutan, sistem tersebut dapat bekerja dalam kondisi yang kurang ideal.

Bukti terbaru juga semakin memperkuat hubungan tersebut. Sebuah penelitian pada tahun 2025 menemukan bahwa paparan polusi udara berkaitan dengan peningkatan kejadian penyakit dan kematian akibat penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung iskemik, aritmia, dan gagal jantung [3].

Masalah yang Tidak Selalu Terlihat

Salah satu tantangan polusi udara adalah kita tidak selalu dapat melihat atau merasakannya. Kita mungkin merasa baik-baik saja setelah melewati jalan yang ramai. Tidak batuk, tidak sesak, dan tidak merasa sakit. Namun, paparan polusi dapat terjadi berulang kali dalam kehidupan sehari-hari.

WHO menyatakan bahwa sekitar 99% atau hampir seluruh populasi dunia menghirup udara yang mengandung polutan dalam kadar yang melebihi batas aman yang direkomendasikan [5]. Artinya, polusi udara bukan hanya menjadi masalah bagi mereka yang tinggal di kota besar atau orang yang sudah memiliki penyakit jantung. Kita semua dapat terpapar polusi udara dalam kehidupan sehari-hari, baik saat di rumah maupun di luar rumah.

Siapa yang Paling Berisiko?

Dampak polusi udara tidak sama bagi setiap orang. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Namun, kelompok usia produktif juga tidak boleh menganggap dirinya aman.

Risiko penyakit jantung biasanya terbentuk dari berbagai faktor. Merokok, tekanan darah tinggi, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan faktor lingkungan dapat saling berkontribusi. Polusi udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhitungkan dalam upaya pencegahan penyakit kardiovaskular [2], [3], [4].

Kalau Begitu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Kita perlu melihat polusi udara sebagai permasalahan kesehatan masyarakat, bukan hanya persoalan individu.

Pada tingkat individu, kita dapat mengurangi paparan apabila memungkinkan, seperti menghindari asap rokok dan pembakaran sampah, serta menggunakan masker ketika berada di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi. Namun, langkah-langkah tersebut memiliki keterbatasan. Tidak semua orang dapat memilih tempat kerja, rute perjalanan, atau lingkungan tempat tinggal yang bebas dari polusi udara.

Upaya mengurangi polusi udara perlu dilakukan secara bersama-sama. Pada tingkat komunitas, masyarakat dapat terlibat dalam mengenali dan melaporkan sumber polusi di lingkungan sekitar, sementara fasilitas pelayanan kesehatan bersama kader dapat mengintegrasikan edukasi mengenai polusi udara dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.

Pada tingkat yang lebih luas, pemerintah perlu memperkuat pemantauan kualitas udara, mengendalikan emisi kendaraan dan industri, meningkatkan akses terhadap transportasi publik, serta mendorong pengelolaan sampah yang tidak bergantung pada proses pembakaran.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diminta untuk menghindari polusi, tetapi juga didukung oleh lingkungan dan kebijakan yang membuat udara lebih sehat untuk dihirup.

Udara seperti Apa yang Kita Hirup Setiap Hari?

Menjaga kesehatan jantung selama ini sering dikaitkan dengan mengurangi garam, berolahraga, menjaga berat badan, dan berhenti merokok. Semua itu memang penting. Namun, ada satu hal lain yang tidak kalah penting, “Udara seperti apa yang kita hirup setiap hari?”

Polusi udara tidak selalu membuat kita langsung merasa sakit sehingga kita mudah mengabaikannya. Padahal, bukti ilmiah terus menunjukkan bahwa paparan polusi udara, terutama PM2.5, berkaitan dengan berbagai penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan jantung juga perlu memperhatikan kualitas udara yang kita hirup. Namun, menjaga udara tetap bersih bukan hanya tugas individu. Udara bersih merupakan bagian dari lingkungan yang sehat, dan lingkungan yang sehat merupakan bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang lebih sehat.

References:

[1]       WHO, “Ambient (outdoor) air pollution.” [Online]. Available: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ambient-%28outdoor%29-air-quality-and-health

[2]       WHO, “Air quality, energy, and health.” [Online]. Available: https://www.who.int/teams/environment-climate-change-and-health/air-quality-energy-and-health/health-impacts

[3]       F. Islam, S. K. Nukala, P. Shrestha, T. Badgery-Parker, and F. Foo, “Air pollution and cardiovascular disease: a systematic review of the effects of air pollution, including bushfire smoke, on cardiovascular disease,” American Heart Journal Plus: Cardiology Research and Practice, vol. 54, p. 100546, 2025, doi: 10.1016/j.ahjo.2025.100546.

[4]       Y. Feng, G. Fang, J. Ouyang, C. Pan, L. Ke, and K. Gu, “Risk of PM2.5 and its constituents for cardiovascular diseases: A cohort study of over 5.8 million participants,” iScience, vol. 29, no. 2, p. 114537, 2026, doi: 10.1016/j.isci.2025.114537.

[5]       WHO, “Air pollution data portal.” [Online]. Available: https://www.who.int/data/gho/data/themes/air-pollution

Scroll to Top