Penulis: Intan Aziizah – Master of Public Health, FK-KMK UGM

Too Hot to Handle: The Hidden Metabolic Syndrome Impact of Heat Waves
Ketika gelombang panas (heat wave) terjadi, tubuh tidak hanya merasa kepanasan, tetapi dipaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal. Tekanan fisiologis ini tidak hanya memicu kelelahan atau heat stroke, tetapi juga berinteraksi dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan kardiometabolik di tengah peningkatannya akibat perubahan iklim. Gelombang panas sendiri didefinisikan sebagai periode suhu sangat tinggi melebihi batas normal suatu wilayah yang berlangsung beberapa hari. Paparan intensif ini memberikan tekanan fisiologis langsung pada sistem metabolisme tubuh
Gelombang Panas Bukan Sekedar Hari yang Panas
Gelombang panas tidak sama dengan satu hari ketika cuaca terasa lebih panas dari biasanya. Secara umum, heat waves merujuk pada periode ketika suhu berada pada tingkat yang sangat tinggi dibandingkan kondisi normal suatu wilayah dan berlangsung selama periode tertentu. Karena setiap daerah memiliki karakteristik iklim yang berbeda, batas suhu yang disebut sebagai gelombang panas juga tidak selalu sama. Paparan suhu tinggi yang berlangsung secara intensif dan berkepanjangan selama gelombang panas ini tidak hanya memicu kelelahan fisik, tetapi juga memberikan tekanan fisiologis pada sistem metabolisme tubuh.
Gelombang panas kian terasa suhu rata-rata permukaan Bumi meningkat akibat pemanasan global kini telah mencapai sekitar 1,1°C hingga 1,5°C dibandingkan dengan keadaan sebelum di era industri. hal ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari penambangan dan pembakaran bahan bakar fosil yang menjadi kontributor utama dalam perubahan iklim dan polusi udara yang menyebabkan pemanasan global. Dampak dari gelombang panas ini kian terasa, berbagai negara dilanda gelombang panas. Sebuah penelitian menemukan bahwa pada periode 2000–2019, terjadi sekitar 489.000 kematian akibat panas setiap tahunnya, termasuk lebih dari 70.000 orang yang meninggal selama gelombang panas tahun 2003 di Eropa 1.
Besarnya beban panas ditentukan oleh kombinasi suhu, kelembapan, kecepatan angin, hingga suhu malam hari. Saat lingkungan sangat panas dan lembap, pelepasan panas melalui penguapan keringat terhambat, sehingga tubuh merespons dengan melebarkan pembuluh darah kulit dan meningkatkan denyut jantung demi menjaga regulasi suhu internal.
Perlawanan tak terlihat, saat tubuh menghadapi panas
Pemanasan global yang semakin parah membuat gelombang panas terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini dapat memperparah masalah kesehatan. Metabolik sindrom salah satu masalah kesehatan yang secara diam-diam mengancam kesehatan akibat paparan gelombang panas. Tubuh yang bekerja keras karena gelombang panas akan mengalami tekanan fisiologi yang menyebabkan tubuh mengalami gangguan metabolik dalam mengatur hormon energi, gula darah, dan lemak tubuh yang beresiko pada masalah kardiovaskular, stroke, dan diabetes.
Penyakit metabolik mencakup berbagai kondisi. Kondisi-kondisi tersebut memiliki mekanisme yang kompleks, tetapi sering melibatkan gangguan regulasi pada glukosa, resistensi insulin, perubahan metabolisme lemak, dan gangguan fungsi pembuluh darah. Paparan panas ekstrem dapat berinteraksi dengan beberapa jalur tersebut. Ketika tubuh mengalami heat stress, terjadi perubahan pada sistem kardiovaskular, hormonal, inflamasi, dan keseimbangan cairan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi bagaimana tubuh mengatur energi metabolisme. Stres akibat panas memicu inflamasi kronis dan oxidative stress yang berkontribusi pada perkembangan penyakit kardiovaskular dan metabolik. Meskipun bukan kausalitas langsung, alur biologis ini menunjukkan bagaimana paparan panas ekstrem memengaruhi kesehatan metabolik dalam jangka panjang.
Sebuah penelitian di China mengungkapkan bahwa peningkatan suhu atau panas yang ekstrem berpengaruh pada peningkatan polusi udara sehingga menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiometabolik 2. Ditambah, masih terdapatnya banyak faktor lain yang dapat berperan, seperti usia, status sosial ekonomi, aktivitas fisik, kualitas tidur, kondisi lingkungan, penyakit yang sudah dimiliki, serta akses terhadap fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, correlation tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai causation.
Tidak semua orang menghadapi panas dengan cara yang sama
Di sinilah heat waves menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Paparan panas tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Lansia, individu dengan obesitas atau penyakit kronis, pekerja yang berada di luar ruangan, serta kelompok yang tinggal di lingkungan dengan ventilasi buruk dapat menghadapi risiko yang lebih tinggi (inequality of access)
Kondisi sosial ekonomi juga berperan. Kemampuan menggunakan pendingin ruangan, akses terhadap air bersih, kualitas tempat tinggal, jenis pekerjaan, serta keberadaan ruang hijau di sekitar tempat tinggal dapat menentukan seberapa besar seseorang terpapar panas dan seberapa mampu mereka mengatasinya.
Dua orang yang tinggal di kota yang sama bahkan dapat mengalami paparan panas yang berbeda. Seseorang yang tinggal di lingkungan dengan banyak pohon, ventilasi baik, dan akses terhadap tempat sejuk tidak menghadapi kondisi yang sama dengan pekerja yang harus berada di luar ruangan sepanjang hari, seperti ojek online. Dampak gelombang panas sangat dipengaruhi oleh ketimpangan sosial (health inequality). Pekerja luar ruangan seperti ojek online menanggung risiko jauh lebih tinggi dibandingkan individu yang memiliki akses tempat sejuk dan lingkungan bervegetasi3 .
Bagaimana Respons terhadap Panas Ekstrem
Respons terhadap panas ekstrem tidak cukup hanya berfokus pada kondisi akut seperti dehidrasi dan heat stroke. Dampaknya yang meluas pada sistem kardiovaskular, metabolisme, hingga ketimpangan sosial menuntut strategi adaptasi yang lebih luas, seperti perlindungan pekerja luar ruangan, penyediaan ruang hijau, dan desain kota yang tahan panas.
Pada akhirnya, menghadapi heat waves bukan sekadar mencari tempat sejuk, melainkan membangun lingkungan dan sistem kesehatan yang adaptif untuk melindungi kelompok yang paling rentan.
Referensi:
1. World Health Organization. Heatwaves [Internet]. [cited 2026 Sep 19]. Available from: https://www.who.int/health-topics/heatwaves#tab=tab_1
2. Li A, Fang C, Li Y. Environmental determinants of cardiovascular-kidney-metabolic health: interactive roles of air pollution, heat waves, and green spaces [Internet]. Vol. 16. 2026;16:4073. doi:10.7189/jogh.16.04073
3. Stres Oksidatif: Mekanisme Molekuler, Peran dalam Patologi, dan Implikasi Terapeutik – Universitas Airlangga Official Website [Internet]. [cited 2026 Sep 19]. Available from: https://unair.ac.id/stres-oksidatif-mekanisme-molekuler-peran-dalam-patologi-dan-implikasi-terapeutik/
4. Siddiqui SA, Thiam S, Houndodjade C, Murage P, Bonell A. A systematic review and meta-analysis of the impact of environmental heat exposure on cardiovascular diseases, chronic respiratory diseases and diabetes mellitus in low- & middle-income countries. Environ Res. 2025;282:121980. doi:10.1016/J.ENVRES.2025.121980 PubMed PMID: 40451411.