Penulis: Agnes Boenardy – Master of Public Health, FK-KMK UGM

Ketika seekor sapi mati mendadak, pertanyaan pertama di benak kita mungkin: “Apakah aman jika dagingnya dimakan?” Padahal, cerita antraks dimulai jauh sebelum daging sampai ke piring tepat di depan kita. Ia bisa bermula dari tanah yang menyimpan spora bertahun-tahun, perubahan musim yang mengubah tempat ternak mencari makan dan minum, hingga cara ternak sakit atau mati ditangani.
Tanah mengering, rumput mulai berkurang, debu bertebaran, dan sumber air semakin terbatas. Kondisi seperti ini terasa semakin nyata pada kemarau tahun 2026. Pada saat yang sama, BMKG mencatat El Niño berada pada kategori sangat kuat, menyiratkan bahwa kemarau panjang terjadi pada sebagian besar wilayah di Indonesia (1).
Lalu, apa hubungannya kemarau panjang dengan antraks?
Kemarau tidak serta-merta menyebabkan seekor sapi atau kambing terkena antraks. Namun, perubahan musim dapat mengubah “panggung” tempat tanah, ternak, bakteri, dan manusia saling bertemu.
Antraks bukan hanya cerita lama bagi beberapa daerah di Indonesia, salah satunya Gunungkidul, Yogyakarta. Pada Februari hingga Maret 2025, sebanyak 23 sapi dan 3 kambing mati di beberapa wilayah Kabupaten Gunungkidul, dengan konfirmasi antraks pada ternak terdampak (2). Dua tahun sebelumnya, sejumlah ternak dilaporkan mati mendadak, kemudian sebagian dipotong dan dikonsumsi. Salah satu warga yang ikut memotong ternak tersebut kemudian mengalami gejala, dirawat dengan diagnosis diduga antraks, dan meninggal. Sebanyak 87 orang ditemukan pernah terpapar antraks meski tanpa gejala dari 125 warga yang dianggap berisiko (3). Kasus tersebut menunjukkan bahwa risiko antraks tidak hanya muncul saat daging sampai ke piring, risiko sudah dimulai sejak ternak sakit atau mati ditangani dan lingkungan sekitarnya terkontaminasi.
Ketika wabah selesai, tanah belum tentu “bersih”
Bakteri penyebab antraks mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki banyak bakteri lain: membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteridapat bertahan di tanah dalam waktu yang sangat lama (4). Ketika spora masuk ke tubuh hewan yang rentan, misalnya karena tertelan saat merumput, bakteri dapat kembali berkembang. Kasus pada ternak mungkin selesai ditangani, tetapi sumber penyakitnya tidak sesederhana menghilangkan satu ekor hewan yang sakit. Tanah, karakteristik lingkungan, hingga cara ternak mencari makan ikut menentukan peluang kejadian antraks.
Jika Anda bertanya-tanya, kemarau atau hujan: mana yang lebih berbahaya?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih salah satu musim. Saat kemarau panjang, rumput dan sumber air dapat berkurang. Ternak mungkin harus mencari pakan lebih jauh, merumput lebih dekat dengan permukaan tanah. Perubahan seperti ini berpotensi mengubah peluang ternak bersentuhan dengan material tanah yang mengandung spora. Namun, hujan juga dapat berperan. Hujan deras yang muncul setelah kemarau panjang mengangkat spora yang tertimbun dalam tanah ke permukaan hingga ke rumput yang dimakan ternak.
Penelitian yang mengikuti kejadian antraks pada ternak selama sekitar 30 tahun di Karnataka, India, menemukan adanya hubungan antara kejadian dan wabah antraks dengan variasi curah hujan dan El Niño. Dinamika iklim dapat membantu menjelaskan kapan risiko antraks berubah (4,5). Antraks sangat bergantung pada kondisi setempat: jenis tanah, kepadatan dan pergerakan ternak, penggunaan lahan, serta praktik masyarakat. Karena itu, pesan pentingnya bukan “kemarau atau hujan menyebabkan antraks”, melainkan:
Ketika musim berubah, cara ternak berinteraksi dengan lingkungan juga dapat berubah. Hal ini cukup menjadi alasan untuk tidak lengah, ketika ternak sakit atau mati, keputusan berikutnya ada di tangan manusia.
Ketika ternak mati, mengambil keputusan tidak selalu sederhana.
Bagi pemilik ternak, kehilangan seekor sapi atau kambing tentu berat karena merupakan aset berharga. Tradisi menentukan keputusan ini ketika masyarakat bersama-sama membeli ternak yang sakit atau mati untuk membantu pemiliknya mengurangi kerugian, kemudian daging dipotong dan dibagikan. Studi antropologi di Gunungkidul menunjukkan bahwa praktik tersebut berkaitan dengan faktor ekonomi, sosial, dan budaya bukan semata-mata persoalan kurangnya pengetahuan (6). Namun, ketika hal tersebut terjadi, risiko yang sebelumnya berada di kandang sampai ke manusia lebih cepat.
Manusia dapat terpapar spora melalui kulit, udara, maupun tertelan. Dengan kata lain, kasus antraks sebenarnya dimulai jauh sebelum daging berada di dapur. Pencegahan antraks tidak cukup berhenti pada pesan “waspada antraks”. Ketika ternak mati mendadak, masyarakat perlu menahan dorongan untuk segera memotong, menjual, atau memanfaatkannya. Kementerian Pertanian juga menekankan hal yang serupa dan meminta kejadian mencurigakan segera dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan. Vaksinasi ternak di wilayah berisiko tetap menjadi bagian penting pengendalian.
Apa yang harus dilakukan?
- Segera laporkan ternak yang sakit dan mati mendadak kepada petugas kesehatan hewan.
- Pisahkan alas kaki, pakaian, dan peralatan setelah berkegiatan di kandang dari rumah.
- Bijak dalam membeli daging melalui tempat resmi dan terpercaya.
- Tidak mengolah daging dari ternak yang mati mendadak.
- Gunakan pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan sepatu boot, saat berada di area rentan terutama ketika ada luka pada tubuh karena spora dapat masuk melalui luka (3).
Kemarau tidak menciptakan antraks. Hujan pun tidak otomatis memicu wabah. Namun, ketika musim berubah, hubungan antara tanah, ternak, dan manusia ikut berubah. Karena itu, saat wabah mereda, kewaspadaan tidak seharusnya ikut menghilang. Antraks tidak sepenuhnya hilang sporanya hanya bertahan di balik tanah, tetapi keputusan yang kita ambil ketika ternak sakit atau mati menentukan apakah risiko berhenti di kandang atau ikut berjalan sampai ke rumah.
Referensi:
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Analisis dinamika atmosfer Dasarian I September 2026 [Internet]. Jakarta: BMKG; 2026 Sep 14 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://www.bmkg.go.id/iklim/dinamika-atmosfer/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-i-september-2026
- Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kementan dan Dinas respon cepat tangani antraks di Gunung Kidul, vaksinasi disiapkan jelang Idul Adha [Internet]. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia; 2025 Apr 10 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://bpmsph.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/kementan-dan-dinas-respon-cepat-tangani-antraks-di-gunung-kidul-vaksinasi-disiapkan-jelang-idul-adha
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah antraks meluas, Kemenkes beri profilaksis kepada populasi berisiko [Internet]. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2023 Jul 6 [cited 2026 Sep 18]. Available from: https://kemkes.go.id/id/%20cegah-antraks-meluas-kemenkes-beri-profilaksis-kepada-populasi-berisiko
- Ogunleye SC, Olorunshola MM, Fasina KA, Aborode AT, Akinsulie OC, Amoo A, et al. Anthrax outbreak: exploring its biological agents and public health implications. Front Trop Dis. 2024;4:1297896. doi:10.3389/fitd.2023.1297896.
- Chanda MM, Campbell L, Walke H, Salzer JS, Hemadri D, Patil SS, et al. A thirty-year time series analyses identifies coherence between oscillations in anthrax outbreaks and El Niño in Karnataka, India. Sci Rep. 2024;14:19928. doi:10.1038/s41598-024-67736-w.
- Firdaus AR, Hasna RA, Putri LK, Kriswardhani PN, Zidan MH, Triratnawati A. Mengurai tradisi Brandu dan penularan antraks sebagai strategi eliminasi wabah antraks di Gunungkidul, Yogyakarta. Umbara. 2024;9(1):65-75. doi:10.24198/umbara.v9i1.57495.