Sinergi Sehat Indonesia

Bukan Sekadar Dahaga, Mengurai Dampak Kemarau Panjang Terhadap Kesehatan!

Penulis: Aulia Rinanti Pertiwi – Master of Public Health, (FK-KMK) UGM

Rasa haus mungkin menjadi hal pertama yang terlintas ketika membayangkan kemarau panjang. Namun, dampaknya tidak berhenti pada cuaca yang terasa semakin terik, tanah yang mengering, atau sawah yang kekurangan air. Di balik berkurangnya ketersediaan air, terdapat berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul dan saling berkaitan. Air bukan hanya untuk menghilangkan dahaga. Ketersediaan air yang cukup dan aman dibutuhkan untuk minum, memasak, mencuci tangan, membersihkan bahan pangan, hingga menjaga sanitasi rumah tangga. Karena itu, ketika kekeringan terjadi dalam waktu lama, persoalan air dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Kekeringan yang terjadi merupakan fenomena hidrometeorologi kompleks yang ditandai dengan berkurangnya curah hujan dibawah batas normal dalam jangka waktu yang lama (1,3). Kondisi ini diperparah dengan Fenomena El Nino di berbagai wilayah Indonesia, terutama Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi (2). Berdasarkan data pemantauan iklim, kemarau ekstrem memicu penurunan debit air permukaan dan penyusutan cadangan air tanah hingga mencapai lebih dari 50% di daerah terdampak (2,4). Dampak kekeringan akibat kemarau panjang menimbulkan kelangkaan ketersediaan air bersih. Ketika air di sumur warga mulai menyusut, kualitas air yang tersisa justru menurun kualitasnya dan menjadi tempat berkembangnya kuman penyakit serta polutan (1,4) .

Penurunan kuantitas dan kualitas air bersih ini secara langsung mengganggu praktik sanitasi dan higiene (Water, Sanitation, and Hygiene / WASH) masyarakat (1). Terbatasnya penggunaan air yang dapat digunakan untuk mencuci tangan, membersihkan bahan makanan, dan pemeliharaan kakus yang higienis menciptakan rantai penularan penyakit berbasis lingkungan secara cepat (1,4). Sebuah studi di kawasan Mediterania Timur mengindikasikan bahwa keterbatasan air bersih selama kekeringan memicu peningkatan insidensi penyakit water-washed dan water-borne (3) . Di sisi lain, kebiasaan masyarakat menampung air sisa dalam wadah-wadah terbuka selama masa krisis air justru menciptakan tempat pperkembang biakan  baru bagi nyamuk Aedes aegypti, yang berpotensi mendorong lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan pemukiman padat penduduk (1,5).

Dampak kekeringan terhadap kesehatan populasi sangat kompleks, sistemik, dan bertingkat. Kurangnya akses terhadap air minum yang terjamin kelaikannya meningkatkan insidensi penyakit saluran pencernaan seperti diare, kolera, dan disentri . Selain itu, kondisi tanah yang mengering dan mengelupas di wilayah kemarau panjang memicu peningkatan partikel debu halus di udara, yang berujung pada lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta memperburuk kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) (1). Kegagalan panen akibat kekeringan berkepanjangan mengancam ketahanan pangan. Kondisi ini berujung pada peningkatan risiko malnutrisi, gizi buruk, hingga stunting pada balita, serta memicu tekanan psikososial berupa stres dan depresi bagi masyarakat pedesaan (1,3) .

Untuk mengatasi masalah-masalah diatas, pemerintah dan masyarakat harus bekerja secara komprehensif. Langkah tersebut meliputi pembangunan infrastruktur pemanenan air hujan (rainwater harvesting), optimalisasi distribusi air bersih darurat yang sudah teruji kelaikannya, serta pemantauan kualitas air secara berkala oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Optimalisasi layanan darurat ini sebaiknya didukung dengan jaminan akses gratis dan merata bagi populasi terdampak. Selain itu, perlu penguatan edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengolahan air minum tingkat rumah tangga serta penutupan rapat wadah penampungan air. Penguatan sistem surveilans epidemiologi penyakit menular di wilayah rawan kekeringan menjadi kunci utama untuk mendeteksi secara dini potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) (1,4).

Air bukanlah sekadar pemuas dahaga, ketersediaan air bersih adalah komponen utama bagi peradaban dan kesehatan. Tanpa pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, kesiapsiagaan sistem kesehatan lingkungan, dan kerja sama lintas sektor, masyarakat akan senantiasa rentan terjebak dalam krisis kesehatan yang mengancam setiap kali musim kemarau panjang datang menyapa.

Referensi:

  1. Stanke C, Kerac M, Prudhomme C, Medlock J, Murray V. Health effects of drought: a systematic review of the evidence. PLoS Currents Disasters. 2013;5. doi:10.1371/currents.dis.7a2cee9e980f91ad7697b570bcc4b004
  2. Santika T, Muhidin S, Budiharta S, Haryanto B, Agus F, Wilson KA, dkk. Deterioration of respiratory health following changes to land cover and climate in Indonesia. One Earth. 2023;6(3):290-302. doi:10.1016/j.oneear.2023.02.012
  3. Bellizzi S, Lane C, Elhakim M, Nabeth P. Health consequences of drought in the WHO Eastern Mediterranean Region: hotspot areas and needed actions. Environmental Health. 2020;19(1). doi:10.1186/s12940-020-00665-z
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengawasan Kualitas Air dan Sanitasi pada Situasi Bencana dan Krisis Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
  5. Trewin BJ, Kay BH, Darbro JM, Hurst TP. Increased container-breeding mosquito risk owing to drought-induced changes in water harvesting and storage in Brisbane, Australia. International Health. 2013;5(4):251-258. doi:10.1093/inthealth/iht023

Scroll to Top