Sinergi Sehat Indonesia

Leptospirosis Bukan Cuma Musim Hujan: Musim Kemarau Pun Bisa Menyerang!

Penulis: Wulan May Kusuma Dewi – Master of Public Health, (FK-KMK) UGM

Tahukah Anda, pada Juli–Agustus 2025 Kementerian Kesehatan mencatat 703 kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadikannya peringkat kedua tertinggi peningkatan kasus di Indonesia.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita kenali dulu penyakit ini. Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans, yang banyak dikenal sebagai “penyakit akibat air kencing tikus.” Bakteri ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka di kulit atau melalui mukosa seperti mata dan mulut. Lingkungan yang rawan banjir, genangan air, selokan, kawasan kumuh, hingga tempat pembuangan sampah menjadi habitat utama bakteri ini. Gejalanya sering tidak khas: mulai dari flu, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, hingga mata merah. Karena mirip dengan penyakit lain, banyak orang menyepelekan gejala ringan dan mengobatinya sendiri di rumah saja. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, leptospirosis bisa berkembang menjadi kondisi berat seperti gagal ginjal akut, gangguan pernapasan, tekanan darah rendah, hingga Weil’s syndrome (trias pendarahan, jaundice (penyakit kuning), hingga gangguan ginjal akut. Sebagian besar kasus leptospirosis dapat disembuhkan. Namun, risiko kematian meningkat pada kelompok rentan, seperti lansia dan pasien dengan penyakit berat. (1).

Selama ini leptospirosis lebih dikenal sebagai penyakit musim hujan. Namun, penelitian di Belanda menunjukkan bahwa pada musim panas, laju kejadian (IRR) mencapai 1,40, menandakan peningkatan kasus leptospirosis (2). Meski bakteri lebih lemah di lingkungan kering, suhu hangat pada genangan air justru mendukung perkembangbiakannya (3).  Berdasarkan penelitian dengan pendekatan spasial di Banyumas, lokasi pemukiman yang berada <500 meter dari wilayah tempat pembuangan sampah berisiko mendukung peningkatan populasi tikus. Bahkan terdapat temuan bahwa kejadian leptospirosis terjadi pada lokasi dengan memiliki kondisi padat penduduk, curah hujan rendah, dan lokasi yang tidak memiliki riwayat banjir (6). Ancaman utama tetaplah pada keberadaan tikus, yang dapat bertahan di kawasan kumuh, bantaran sungai, dan tempat pembuangan sampah. Menurut DPUPKP Yogyakarta, terdapat 47 hektare kawasan kumuh yang mayoritas berada di bantaran sungai. Kondisi ini meningkatkan risiko keberadaan tikus, terutama bila kebersihan air, toilet bersama, dan pengelolaan sampah tidak memadai.

Beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan pada musim kemarau untuk menekan risiko leptospirosis.

  1. Menjaga rumah tetap rapi dan bebas dari tumpukan barang yang bisa menjadi sarang tikus. Kondisi rumah yang buruk dapat meningkatkan risiko 2,18 kali lipat penghuni rumah terinfeksi leptospirosis (4).
  2. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar terutama tempat sampah dan saluran air. Lingkungan rumah yang tidak terjaga kebersihannya meningkatkan risiko 2,58 kali lipat (4).
  3. Mengendalikan keberadaan tikus di dalam maupun di luar rumah karena keberadaan tikus meningkatkan risiko menginfeksi leptospirosis pada manusia hingga 4,51 kali lipat (4).
  4. Menggunakan sepatu boots dan sarung tangan saat membersihkan lingkungan (5).
  5. Membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah dan sebelum melakukan kegiatan, dan mengonsumsi makanan dan minuman yang matang dan diolah dengan sempurna dalam keadaan bersih dan layak konsumsi (5).
  6. Menutup luka pada tubuh sebelum beraktivitas untuk mencegah masuknya bakteri jahat pada tubuh karena leptospirosis dapat masuk melalui luka pada tubuh (5).

Leptospirosis bukan hanya ancaman pada musim hujan tetapi juga dapat menjadi ancaman pada musim kemarau. Dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta higiene pribadi, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat, bebas dari tikus, dan aman dari leptospirosis.

Referensi:

  1. Cahyadi, A. (2019). Leptospirosis: Penyakit Yang Terlupakan. Journal Of The Indonesian Medical Association, 69(2), 57–58. https://doi.org/10.47830/jinma-vol.69.2-2019-71.
  2. Obels, I., Mughini-Gras, L., Maas, M., Brandwagt, D., van den Berge, N., Notermans, D. W., Franz, E., van Elzakker, E., & Pijnacker, R. (2025). Increased incidence of human leptospirosis and the effect of temperature and precipitation, the Netherlands, 2005 to 2023. Eurosurveillance, 30(15). https://doi.org/10.2807/1560-7917.es.2025.30.15.2400611
  3. Prasad Bora, D., Goswami, C., Makdoh Gogoi, S., Ali, A., Abdul Kader, N., Natarajaseenivasan, K., & Nath Barman, N. (2025). Leptospirosis: A Complex Disease. Infectious Diseases. https://doi.org/10.5772/intechopen.1008535
  4. Setiawan, A., Setiyadi, N. A., & Murti, B. (2024). Analysis of environmental risk factors for leptospirosis in Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Journal of Epidemiology and Public Health, 9(4), 425–436. https://doi.org/10.26911/jepublichealth.2024.09.04.03
  5. Jittimanee, J., & Wongbutdee, J. (2019). Prevention and control of leptospirosis in people and surveillance of the pathogenic Leptospira in rats and in surface water found at villages. Journal of Infection and Public Health, 12(5), 705–711. https://doi.org/10.1016/j.jiph.2019.03.019
  6. Janah, M., Rejeki, DSS., & Nurlaela, S. (2021) Analisis Kondisi Lingkungan pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Banyumas dengan Pendekatan Spasial. Jurnal Penyakit Tular Vektor. 13(2), pp. 89-100. | https://doi.org/10.22435/asp.v13i2.4837

Scroll to Top