Penulis: Zaimatun Nabilah – Master of Public Health, (FK-KMK) UGM

“Daripada menumpuk, dibakar saja lah.”
Kalimat ini mungkin terdengar familiar ketika tempat sampah sudah penuh atau petugas pengangkut belum datang, membakar sampah di halaman rumah sering dianggap sebagai solusi paling cepat. Beberapa menit kemudian, tumpukan sampah memang sudah tidak terlihat. Hilang.
Namun, benarkah sampah benar-benar hilang ketika dibakar? Jawabannya: tidak sesederhana itu, Kawan. Sayangnya, masih banyak orang yang belum mengetahui dan abai dengan risiko ini.
Pembakaran sampah memang seperti sulap yang hilang dari pandangan, tetapi sebenarnya ia masuk ke paru-paru.
Ketika sampah dibakar secara terbuka dengan tata cara pembakaran yang tidak sempurna, berbagai zat pencemar dapat terlepas ke udara. Salah satu zat berbahaya adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil (berukuran 2,5 mikrometer atau kurang) yang memungkinkan dapat masuk ke saluran pernapasan. [1,2]
Sebuah penelitian yang dilakukan di Kota Semarang menunjukkan bahwa praktik pembakaran sampah rumah tangga masih cukup besar. Pada tahun 2020–2021, diperkirakan sekitar 58,8 kiloton sampah per tahun dibakar secara terbuka. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah daerah pada tahun 2020. Pembakaran tidak hanya dilakukan terhadap daun dan sampah organik, tetapi juga plastik yang mencapai sekitar 17 persen dari total sampah yang dibakar [3]
Pembakaran sampah secara terbuka merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Paparan polutan dari pembakaran sampah dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pernapasan[1]
Bayangkan! Sampah plastik yang kita bakar mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menjadi abu. Akan tetapi, , selama proses tersebut, kita justru melepaskan berbagai zat pencemar ke lingkungan yang dampaknya bisa kita teruskan ke anak cucu kita nanti, Merinding, bukan?
Bukan cuma bikin batuk, tapi dapat memicu penyakit serius
Berikut adalah berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat berkaitan dengan paparan dari pembakaran sampah:
1. Penyakit Kardiovaskular (Jantung dan Pembuluh Darah)
Tak hanya gangguan saluran pernapasan, paparan polusi udara juga dapat berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung, stroke, dan hipertensi [2]
Apasih hubungannya? Kenapa bisa sampai se-parah itu?
Hal ini disebabkan oleh partikel kecil tak kasat mata, yaitu PM2,5. Partikel tersebut bisa masuk ke aliran darah dan memicu stress oksidatif pemicu serangan jantung, menyumbat pembuluh darah ke otak [2]
2. Gangguan Saluran Pernapasan Akut
ISPA, asma, bronchitis dan pneumonia adalah beberapa penyakit serius yang bisa ditimbulkan akibat pembakaran sampah. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang di lakukan di Sudan mengenai pembakaran sampah rumah tangga terbukti ditemukan bahwa paparan dari aktivitas tersebut berkaitan dengan masalah kesehatan pernapasan, termasuk gejala asma. Pada studi ini dilaporkan bahwa asma merupakan salah satu kondisi kesehatan yang paling banyak dilaporkan pada masyarakat yang terpapar pembakaran sampah rumah tangga (57% responden menderita asma). Paparan partikel halus juga dapat mengganggu kesehatan paru secara umum dan menimbulkan berbagai gangguan pernapasan. [4]
“Cuma dibakar sebentar saja kok”.
Hal ini tetap bisa menjadi masalah loh!
Sering kali kita berpikir, “Saya hanya membakar sedikit dan hanya sebentar. Tidak mungkin berbahaya.”
Masalahnya, pencemaran udara tidak selalu terlihat. Asap yang tipis sekalipun dapat mengandung partikel berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2021 di Londrina, Brasil, menunjukkan bahwa membakar sampah secara terbuka dapat dengan cepat meningkatkan jumlah partikel pencemar di udara sekitar. Saat terjadi pembakaran, kadar PM₂.₅ (partikel udara yang sangat kecil) dan dapat masuk jauh ke dalam paru-paru tercatat mencapai 565,21 µg/m³. Sementara itu, black carbon (karbon hitam yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna) mencapai 317,87 µg/m³. Artinya, asap dari pembakaran sampah tidak hanya berada di sekitar tumpukan sampah, tetapi juga dapat menyebar ke udara di lingkungan tempat orang tinggal dan beraktivitas.[5]
Lebih mengkhawatirkan lagi jika yang dibakar adalah plastik atau sampah campuran. Penelitian mengenai pembakaran sampah menunjukkan bahwa aktivitas tersebut dapat menghasilkan berbagai polutan, termasuk partikulat dan senyawa berbahaya. Karena itu, membakar sampah di halaman rumah bukan sekadar persoalan bau tidak sedap, tetapi juga persoalan kualitas udara. [1,2]
Lalu, apa sih yang harus dilakukan?
Bukan berarti sampah harus dibiarkan menumpuk.
Solusinya adalah mengubah cara kita memperlakukan sampah.
Sampah organik seperti sisa makanan dan daun dapat diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah seperti botol plastik, kardus, dan kaleng dapat dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah. Sementara sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali sebaiknya dikelola melalui sistem pengangkutan dan pengolahan sampah yang tersedia.
Pemerintah juga memiliki peran penting, terutama dalam memastikan layanan pengangkutan sampah, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Sebab, persoalan sampah bukan hanya tentang bagaimana membuat sampah tidak terlihat, tetapi tentang bagaimana mencegah sampah berubah menjadi masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan.
Jadi, sebelum menyalakan api untuk bermain sulap dengan membakar sampah di halaman rumah, yuk coba pikirkan lagi.
Sampah memang dapat hilang dari pandangan dalam hitungan menit. Namun, pencemar yang dihasilkannya tidak ikut menghilang. Pencemar tersebut dapat masuk ke udara yang kita hirup, sementara paru-paru kita tidak memiliki tombol “skip”.
Referensi :
1. Ramadan BS, Rachman I, Ikhlas N, Kurniawan SB, Miftahadi MF, Matsumoto T. A comprehensive review of domestic-open waste burning: recent trends, methodology comparison, and factors assessment. J Mater Cycles Waste Manag. 2022;24(5):1633–47.
2. Gordon JND, Bilsback KR, Fiddler MN, Pokhrel RP, Fischer E V, Pierce JR, et al. The effects of trash, residential biofuel, and open biomass burning emissions on local and transported PM2. 5 and its attributed mortality in Africa. GeoHealth. 2023;7(2):e2022GH000673.
3. Ramadan BS, Rachman I, Matsumoto T. Activity and emission inventory of open waste burning at the household level in developing countries: a case study of Semarang City. J Mater cycles waste Manag. 2022;24(3):1194–204.
4. Waleed Makki H, Waleed Makki H, Mohamed TSA, Omer Hamad Abd El‑Raheem G, Bashir Abdel Mahmoud AZ, Mustafa Elfadul M, et al. Health impact of household waste burning in Khartoum state, Sudan. Risk Manag Healthc Policy. 2023;1297–307.
5. Krecl P, de Lima CH, Dal Bosco TC, Targino AC, Hashimoto EM, Oukawa GY. Open waste burning causes fast and sharp changes in particulate concentrations in peripheral neighborhoods. Sci Total Environ. 2021;765:142736.