Penulis: Amirul Khoiriyah Tejawati – Master of Public Health, (FK-KMK) UGM

Jika pembaca sempat memperhatikan, video musik lagu Where Do the Children Play? dari penyanyi kenamaan Yusuf/Cat Stevens menampilkan sebuah cerita yang menarik. Mengangkat tema kepedulian terhadap lingkungan, video tersebut menggambarkan anak-anak yang sebelumnya dapat bermain di taman, tetapi seiring berjalannya waktu semakin sulit menemukan tempat bermain karena dipenuhi tumpukan sampah. Bahkan, mereka digambarkan terkatung-katung dan hampir mengalami kecelakaan. Ilustrasi tumpukan sampah tersebut menunjukkan dua sisi kemajuan industri: manfaat yang diperoleh manusia sekaligus dampaknya terhadap bumi serta harga yang harus dibayar atas kemajuan tersebut.
Plastik merupakan material yang tersusun atas molekul dengan rantai panjang dan banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai kebutuhan manusia sehari-hari, seperti wadah makanan, alat makan sekali pakai, kantong plastik, ember, dan sebagainya. Plastik memiliki sifat tahan air, relatif tahan panas, ringan, praktis, mudah dibawa, murah, dan mudah diakses. Berbagai karakteristik tersebut menjadi alasan tingginya penggunaan plastik, termasuk di Indonesia.²˒⁴ Berdasarkan informasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ekspor plastik intermediate dan plastik hilir pada tahun 2022 meningkat sekitar 19,1% dengan nilai mencapai USD1,31 miliar.⁷ Selain itu, barang-barang berbahan plastik memiliki nilai produksi domestik sebesar Rp156,56 triliun.⁶ Sementara itu, rata-rata penggunaan plastik per kapita di Indonesia mencapai 17 kg per tahun.⁴ Dapat dibayangkan besarnya kebutuhan plastik jika dihitung pada skala nasional.
Tingginya penggunaan plastik pada akhirnya menghasilkan sampah rumah tangga. Sampah tersebut dapat berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di wilayah peralihan antara perkotaan dan pedesaan, sampah juga kerap dibakar bersama jenis sampah lainnya di area terbuka, dan praktik tersebut sudah dianggap lumrah.⁵ Pembakaran sampah dapat menghasilkan polutan berupa karbon dioksida dan karbon monoksida⁵ serta asap yang mengganggu lingkungan dan kesehatan. Padahal, sebagian sampah plastik sulit terurai dan dapat memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengalami penguraian.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa debris atau sampah plastik dapat dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu makroplastik, mesoplastik, dan mikroplastik. Bahkan, partikel plastik berukuran kurang dari 100 nanometer telah ditemukan di lingkungan. Variasi ukuran tersebut dapat terbentuk akibat proses degradasi yang dipengaruhi oleh radiasi ultraviolet, perubahan cuaca, proses mekanik dan fisik, serta biodegradasi.⁴ Rata-rata cakupan layanan pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia mencapai sekitar 47,35% dari total populasi atau sekitar 112 juta orang. Kurang lebih 24,9% dari total sampah padat perkotaan dibuang ke TPA, sedangkan sekitar 0,8% dikelola melalui fasilitas 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Selain itu, data tahun 2013 menunjukkan bahwa sekitar 70% dari seluruh TPA di Indonesia atau sekitar 492 TPA telah dirancang untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah guna mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Namun, sekitar 99% TPA tersebut ternyata masih melakukan praktik pembuangan sampah secara terbuka tanpa pengelolaan dan pengendalian yang memadai. Padahal, sekitar 14% sampah yang dibuang merupakan sampah plastik.⁴
Beberapa literatur menyebutkan bahwa Indonesia kemungkinan menempati peringkat kedua setelah China sebagai penyumbang polusi plastik di laut. Empat sungai di Indonesia yang dilaporkan memiliki debris sampah plastik dalam jumlah besar adalah Sungai Brantas, Solo, Serayu, dan Progo.⁴ Sungai-sungai tersebut hingga kini masih dimanfaatkan sebagai sumber air bagi masyarakat. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan cemaran plastik di lingkungan masuk ke dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia, dan berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan. Beberapa dampak yang dikaitkan dengan paparan tersebut antara lain gangguan perkembangan janin, gangguan hormonal, iritasi kulit, serta berbagai gangguan lain yang dapat memengaruhi kualitas hidup manusia.³
Lebih lanjut, terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa paparan salah satu senyawa yang berkaitan dengan penggunaan plastik, yaitu Bisphenol A (BPA), pada ibu hamil dapat berhubungan dengan berbagai dampak kesehatan pada bayi, seperti kematian bayi, cacat lahir, maupun penurunan berat badan lahir.³
Sejumlah literatur juga mengaitkan paparan polusi plastik dengan berbagai gangguan kesehatan, antara lain gangguan autoimun, penurunan fungsi tubuh dan saraf, kanker, gangguan pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), gangguan tidur, obesitas, diabetes, serta gangguan hormon reproduksi pada laki-laki maupun perempuan. Paparan tersebut juga berpotensi memicu reaksi alergi dan peradangan pada kulit maupun paru-paru.¹
Melihat berbagai masalah kesehatan yang berpotensi ditimbulkan oleh cemaran plastik di lingkungan, pembatasan penggunaan plastik perlu dilakukan oleh berbagai pihak. Selain itu, layanan pengelolaan sampah oleh pemerintah perlu dioptimalkan, baik dari sisi cakupan populasi maupun jumlah sampah yang dapat dikelola, termasuk melalui penguatan proses 3R, khususnya untuk sampah plastik. Optimalisasi layanan juga dapat didukung melalui penyediaan mekanisme pemungutan dan pengelolaan sampah yang mudah diakses oleh masyarakat. Edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa sebagian sampah plastik sulit terurai sehingga membutuhkan penanganan khusus dan sebaiknya dikelola melalui fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia.
Kembali pada lagu Cat Stevens, Where Do the Children Play?, bagian akhir video menampilkan solusi terhadap tumpukan sampah yang memenuhi lingkungan tempat anak-anak tersebut hidup. Pesan tersebut mengingatkan bahwa kerja sama dan pengelolaan sampah yang tepat menjadi salah satu kunci dalam menangani permasalahan sampah.
Sumber
- Gosh S, Sinha JK, Ghosh S, Vashisth K, Han S, Bhaskar R. Microplastics as an Emerging Threat to the Global Environment and Human Health. Sustainability. 2023;15:10821. https://doi.org/10.3390/su151410821
- Hidayat YA, Kiranamahsa S, Zamal MA. A study of plastic waste management effectiveness in Indonesia industries. AIMS Energy. 2019;7(3):350–370. doi:10.3934/energy.2019.3.350.
- Kumar P. Role of plastics on human health. The Indian Journal of Pediatrics. 2018;85(5):384–389. https://doi.org/10.1007/s12098-017-2595-7
- Lestari P, Trihadiningrum Y. The impact of improper solid waste management to plastic pollution in Indonesian coast and marine environment. Mar Pollut Bull. 2019;149:110505. doi:10.1016/j.marpolbul.2019.110505.
- Ramadan BS, Rachman I, Matsumoto T. Activity and emission inventory of open waste burning at the household level in developing countries: a case study of Semarang City. J Mater Cycles Waste Manag. 2022;24:1194–1204. doi:10.1007/s10163-022-01371-3.
- Badan Pusat Statistik. Indonesia input-output table total transactions based on basic prices (185 products), 2020 (million rupiah) [Internet]. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2025 Jan 27 [cited 2026 Sep 11].
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Miliki daya saing di tingkat global, industri plastik lokal terus didorong pemerintah untuk semakin memperluas jaringan ekspor [Internet]. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia; 2023 Dec 4 [cited 2026 Sep 11].